Senin, 22 September 2008

Nepenthes: Antara Kesempatan dan Ancaman

Written by Tim Nepenthes Sumatra Thursday, 10 April 2008 14:32


Nepenthes, tumbuhan berkantong unik ini pasti menarik para kolektor tumbuhan di Indonesia. Bukan hanya itu, si “Kantong Semar” inipun diminati oleh kolektor luar negeri setelah sekianlama terlupakan begitu saja. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari peranan media yang intensive memberitakan keberadaannya, sebut saja Trubus, Flona, Kompas dan media lainnya. Istana presiden pun sempat dihiasi rangkaian kantong tumbuhan ini. Para hobbies dan grower Nepenthes mulaibangga menunjukkan koleksi yang mereka punya dan melahirkan peminat-peminat baru yangtidak sedikit jumlahnya. Para kolektor latah pun mulai membiasakan diri membeli tumbuhan ini dari pameran atau expo tumbuhan hias yang digelar beberapa institusi. Ulasan tentang Nepenthes nyaris tidak terhenti dalam beberapa bulan terakhir dan mengambil alih perhatian pencinta tanaman hias lainnya untuk sementara waktu seperti pencinta tanaman jenis Euphorbia dan Aglaomorpha yang sempat melejit di akhir tahun 2005.

Walau tidak terdefinisikan dengan jelas ada 3 kelompok pencinta nepenthes yang ada di Indonesia, anatara lain:
1. Kelompok pertama: Peneliti Nepenthes Umumnya bermain di lingkungan perguruan tinggi atau lembaga penelitian. Jumlahnya sedikit dan tidak begitu terekspos media.
2. Kelompok kedua: Peneliti dan praktisi Nepenthes Komunitas ini kebanyakan berisi pencinta Nepenthes, hobbies, grower, praktisi tanaman hias dan beberapa perguruan tinggi yang menaruh perhatian terhadap tumbuhan ini. Kelompok ini mempunyai komunitas yang paling besar dan keberadaanya mulai terangkat kepermukaan. Dalam kelompok ini berkumpul beberapa anggota yang beragam, majemuk dengan orientasi masing-masing yang belum bisa diprediksi dengan jelas. Ada yang hanya sekedar hobi, ada yang mengembangkan pemanfaatan berkelanjutan dan ada yang pure conservationist. Kelompok ini belakangan sangat diminati media untuk diekspos keberadaannya.
3. Kelompok ketiga: Pebisnis Nepenthes Naiknya popularitas si ”Kantong Semar” jelas dianggap sebagai peluang pasar yang harus dicermati dan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Terlebih tumbuhan ini sudah mempunyai nama besar di negara-negara besar diluar Indonesia. Hampir semua jenis asli Nepenthes Indonesia sudah tersebar di negara-negara di Eropa, Amerika dan Jepang. Kelompok ini berada dalam lingkaran abu-abu, di satu sisi berjuang untuk pelestarian Nepenthes, disisi lain mencabut dan mengumpulkan berpuluh puluh Nepenthes liar yang tumbuh di alam untuk menebalkan kantong dengan mengambinghitamkan pembukaan ladang dan masyarakat lokal.
Nepenthes punya peluang besar untuk dimanfaatkan, itu sudah disadari jauh-jauh hari oleh pebisnis, pencinta dan praktisi tanaman hias. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memproklamirkan keberadaannya. Ada ancaman kepunahan dibalik besarnya manfaat yang bisa diambil, itu pun sudah disadari lama oleh para ahli di institusi-institusi penelitian. Sebagai bukti perlindungan dirumuskannya bentuk undang-undang. Namun undang-undang ini seakan hanya sebuahpengumuman. Karena sejauh ini perlindungan Nepenthes belumlah terlaksana dengan baik, terbukti adanyapenurunan populasi dan kerusakan habitat alami Nepenthes. Tanaman yang dilindungi inipun bernasib sama dengan berbagai macam tanaman hias lainnya. Dijajakan di di pinggir jalan dengan harga yang lumayan. Lalu bagaimana dengan status perlindungannya? Siapa yang harus dan berkewajiban melindunginya?

Informasi lebih lanjut silakan menghubungi: Nepenthes Team, Email:
sumatrannepenthes@yahoo.com


Daftar bacaan/literatur :

Camillleri, T. 1998. Carnivorous Plants. Kangaroo Press. East Roseville, NSW. Clarke, C. 1997.


Nepenthes of Borneo. Kota Kinabalu. Clarke, C. 2001.


Nepenthes of Sumatra and Peninsular Malaysia. Kota Kinabalu. Danser, B.H. 1929.


The Nepenthaceae of the Netherlands lndies. Bulletin de Buitenzorg, series III, Vol.IX, 249-438. Jebb, M.H.P. & M. Cheek. 1997.


A Skeletal Revision of Nepenthes (Nepenthaceae). Blumea 42(1):1-106 Pietropaolo, J. & P.Pietropaolo. 1986.


Carnivorous Plants of The World. Timber Press. Oregon Slack, A. 2000. Carnivorous Plants.MIT Press

Apa Itu Tanaman Karnivora?


by ma_suska

Definisi sederhana dari tanaman karnivora adalah semua tanaman yang memangsa binatang sebagai sumber nutrisinya.
Dahulu, tanaman karnivora disebut sebagai tanaman insektivora karena umumnya hanya serangga saja yang menjadi mangsanya. Tetapi setelah ditemukan tengkorak tikus dan kadal dalam beberapa kantung Nepenthes rajah dan beberapa jenis nepenthes lainnya, maka sekarang lebih banyak orang yang menyebut jenis tanaman ini sebagai tanaman karnivora.
Menurut Givnish et al. (1984), untuk digolongkan sebagai tanaman karnivora, tanaman tersebut harus memenuhi dua kriteria. Yakni:
Tanaman ini harus dapat menyerap nutrisi dari binatang yang telah mati yang ada pada permukaan bagian tanamannya, dan dapat meningkatkan pertumbuhan, kesempatan bertahan hidup, produksi pollen, atau biji.


Tanaman ini harus memiliki beberapa adaptasi searah untukmelakukan atraksi aktif, menangkap dan mencerna mangsa.
Di bumi ini terdapat setidaknya 600 spesies yang berasal dari 15 genus yang termasuk ke dalam tanaman karnivora. Kedua puluh genus tersebut terbagi menjadi anggota 7 keluarga (family). Beberapa tanaman lain dari genus Brocchinia, Catopsis, Paepalanthus (Bromeliaceae) , Roridula, Craniolaria,Ibicella, Martynia, Proboscidea dan yang lainnya juga digolongkan sebagai tanaman karnivora oleh beberapa ahli. Namun karena mereka tidak memproduksi enzim pengurai, maka banyak pula yang meragukan mereka sebagai tanaman karnivora. Tanaman karnivora tumbuh menyebar di permukaan bumi, di seluruh benua, kecuali di benua Antartika. Mulai dari hutan hujan tropis, hingga dinginnya Alaska. Namun pada umumnya, tanaman karnivora hidup di tempat dimana banyak tanaman lain tidak dapat bertahan hidup, bercirikan kondisi tumbuh yang miskin hara dan banyak mengandung air.

(ma_suska)